Terkenang oleh Radio

Dulu pernah dikenal dan digunakan istilah 'pesawat radio'. Sebutan itu seakan jadi lumrah karena siaran radio memang mengangkut pesan: berita atau hiburan (lagu). Siaran radio menghubungkan yang jauh, mendekatkan orang-orang yang terpisah dalam jarak, mewujudkan yang tadinya tak ada (informasi, pengetahuan, harapan) menjadi seolah-olah ada. Teknologi radio merupakan salah satu 'keajaiban' peradaban yang berhasil disadari manusia, ditemukan melalui pengetahuan prinsip rambatan gelombang suara melalui udara. Prinsip kerja dasar ini kemudian menjadi perintis sistem transportasi data komunikasi yang berkembang semakin canggih saat ini dengan sistem teknologi satelit. Sedangkan 'pesawat' radio adalah sebuah alat penerima pancaran gelombang data (suara) yang disalurkan oleh pusatnya: pemancar saluran radio. Sejarah perkembangan industri 'pesawat' radio menunjukan dua segi penting. Pertama, berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahan dan teknologi yang mendukung mekanisme operasional sistem pemancar-

Guglielmo Marconi (25 April 1874 – 20 Juli 1937)

penerima gelombang data (suara), termasuk diantaranya adalah penemuan komponen elektronik transistor yang memungkin dijelajahinya penemuan lapisan gelombang-gelombang udara hingga kemudian peralihan sistem teknologi analog menjadi digital.Kedua, berkaitan dengan pemikiran perancangan bentuk desain dan nilai estetik (seni) yang berubah pada tiap-tiap zaman. Sejarah desain bentuk (alat) radio berevolusi berdasarkan temuan di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan pertimbangan keindahan (estetik). Jika perubahan di bidang teknologi mentransformasikan kemampuan operasional dan daya jangkau penerimaan dari alat radio; maka hasil-hasil pencanggihan desain alat radio adalah bentuk perayaan bagi keberhasilan manusia menemukan keajaiban teknologi ini. Desain-desain 'pesawat' radio mengandung simbol-simbol semangat jaman yang tengah berlaku pada suatu masa, menegaskan ciri keberhasilan manusia pada tiap-tiap masa. Maka, sebuah alat radio memang tak cukup kita artikan sebagai suatu obyek alat yang memiliki sejarah keberhasilan tertentu tetapi juga sebuah simbol pencapaian manusia dalam menafsirkan perubahan pengalaman hidupnya. Siaran radio adalah bagian penting dari catatan sejarah kehidupan manusia, menjadi saksi atas berbagai kejadian penting dalam perubahan nasib hidup manusia. Siaran radio berhasil menyatukan berbagai harapan dan mimpi, memenuhi kebutuhan manusia mendapatkan pengetahuan dan hiburan di saat-saat yang penting maupun waktu-waktu senggang. Sejarah siaran radio tak hanya berhasil mewarnai sebuah pengalaman hidup, bahkan juga bisa membentuk masa perkembangan manusia. Kenangan tentang kisah-kisah yang muncul dari sejarah siaran radio tak mudah sirna dan habis untuk diungkapkan, bahkan hingga saat kini. Namun demikian, berbagai harapan dan kegembiran yang dulu pernah diangkut 'pesawat' radio kemudian disalurkan melalui jenis kemajuan alat dan teknologi yang baru, yang bersifat audio-visual yang disebut televisi. Pada awalnya, meski teknologi audio-visual televisi kian digemari masyarakat, siaran radio masih tetap memiliki penggemar dan berfungsi secara khas bagi berbagai kalangan tertentu. Kenikmatan dalam mendengarkan siaran radio, diantaranya yang penting, adalah kegembiraan untuk menggunakan imajinasi seseorang untuk membayangkan sesuatu. Para penyiar radio, dalam hal ini, akan menjadi terkenal karena keterampilan dan kecakapannya membangkitkan imajinasi kolektif para pendengarnya sehingga seakan-akan mereka mengalami sebuah peristiwa atau keadaan tertentu secara 'nyata'. Kotak layar televisi pun tak mampu menandingi kedahsyatan bayangan imajinatif seseorang ketika mendengarkan saluran radio. Kini, ketika watak kehidupan budaya itu sendiri berubah, maka peran dan fungsi sosial siaran radio kian tergeser oleh kemegahan kemajuan teknologi visual yang membentuk terciptanya masyarakat tontonan (society of the spectacle) dan dinamika kebudayaan visual (visual culture). Kini orang lebih gemar menonton dari pada mendengarkan. Industri tontonan berkembang semakin besar dan dianggap sebagai titik kemajuan terdepan dalam perkembangan industri informasi dan hiburan. Siaran radio kini seakan-akan telah berhasil 'dikalahkan' oleh siaran televisi, kemampuan seseorang untuk menghidupkan bayangan bentuk dan imajinasi pun kian susut karena kebiasaan dilayani oleh berbagai contoh-contoh tontonan visual. Saat kini, berbagai mimpi, harapan, dan hiburan tak lagi hidup karena dibayangkan oleh masing-masing orang, tapi telah langsung hadir jadi bentuk yang seragam dalam contoh-contoh yang diproduksi oleh industri tontonan. Perubahan situasi dalam industri siaran radio, juga sama berlaku bagi perkembangan industri alat radio.


Pada masa Golden Age radio di awal abad ke-20, Keluarga
berkumpul di sekitar radio untuk mendengarkan acara favorit mereka. sumber : (FPG/Taxi/Getty Images)
Bentuk alat-alat radio kini telah berubah. Industri alat radio kini dibuat dalam beberapa kemungkinan alasan. Pertama dibuat dengan alasan hanya untuk memenuhi kebutuhan kelompok masyarakat yang masih belum mampu menikmati kemajuan teknologi televisi. Kedua, dibuat dalam ketegangan persaingan dengan teknologi televisi, sehingga diciptakan dengan kemungkinan agar mengisi keadaan-keadaan tertentu yang tak bisa dijangkau oleh teknologi televisi. Dalam kemungkinan ini maka alat radio dibuat dengan pertimbangan persaingan efisiensi dan fungsinya yang bersifat praktis. Kemungkinan dari kemajuan teknologi digital memungkinkan alat tersebut pun menjadi lenyap, dan hanya beroperasi sebagai program digital saja. Ketiga, alat-alat radio justru tetap dibuat dan dipertahankan atas dasar penghargaan pada nilai sejarah temuan dan kemajuan manusia. Sikap yang ketiga ini menunjukkan keinginan untuk mengenang dan memelihara nilai-nilai kemajuan yang telah

dicapai oleh sejarah perkembangan radio. Sebuah 'pesawat' radio, dalam wawasan alasan yang ketiga ini, berharga bukan hanya karena fungsinya secara praktis tetapi justru karena mampu berlaku sebagai simbol dan obyek kebudayaan yang penting. Seorang kolektor radio, misalnya, tentu tidak mengumpulkan berbagai jenis radio karena alasan fungsional sebuah radio, melainkan karena sikap dan kecintaannya pada kenangan sejarah dan cerita tentang kemajuan manusia. Dalam kecintaan dan penghargaannya pada detail-detail bentuk radio,maka seorang kolektor akan mampu menemukan kualitas-kualitas nilai dan penikmatan dari sebuah 'pesawat' radio, misalnya: kejernihan suara, lekukan bentuk, permukaan bidang material yang membungkus radio, hingga bentuk simbol-simbol yang diterakan. Seorang kolektor memahami radio sebagai simbol keberhasilan budaya yang mencerminkan kemajuan suatu masa tertentu.

Dalam kategori pertimbangan ketiga tersebut diatas itulah kita akan menemukan radio neo-Cawang, yang tengah dipamerkan ini, sebagai salah satu contoh industri radio yang hendak mengkonservasi keberhasilan nilai-nilai sejarah. Radio neo-Cawang adalah bentuk kelahiran kembali radio pertama yang dibuat Indonesia dengan merek 'Cawang'. Tentu saja, pada masanya, radio Cawang Indonesia adalah jenis pesawat radio yang paling banyak dikenal dan dipakai oleh orang-orang Indonesia di berbagai pelosok tanah air. Kini radio itu seakan hendak 'dilahirkan' lagi dengan misi yang tak lagi sama dengan sebelumnya. Di era kemajuan kebudayaan visual yang bersifat global kini, radio neo-Cawang (dengan tagline art radio) tampil dengan identitas visual yang berbeda: mengandung simbol-simbol yang menyiratkan ragam hias budaya yang khas ada di kepulauan Nusantara. Desain bentuk radio ini pun bersifat klasik, dengan tetap memanfaatkan material kayu sebagaimana umumnya radio dikerjakan dan dipertimbangkan sejak masa lalu. Di bandingkan dengan bahan plastik, kayu adalah material yang memiliki kemampuan alamiah yang unik untuk memantulkan kualitas akustik suara secara baik. Dibandingkan dengan jenis-jenis radio masa kini yang banyak memanfaatkan saluran gelombang FM, produksi radio neo-Cawang justru tetap menggunakan varian saluran gelombang radio yang lebih banyak (SW, AM, FM) sehingga memungkinannya menangkap gelobang saluran siaran radio jarak jauh. Ini adalah komitmen pada pertimbangan sejarah yang bersifat klasik, demi mempertahankan nilai fungsional radio sebagaimana pernah mencapai masa kegemilangannya di masa dulu. Sebuah pesawat radio dengan kemampuan untuk menjangkau penerimaan sinyal dari saluran siaran radio yang datang dari tempat yang jauh di belahan lain dunia. Radio neo-Cawang diproduksi untuk membangkitkan sikap penghargaan kita terhadap nilai-nilai sejarah dan pencapaian budaya. Pesawat radio ini dengan demikian berharga bukan hanya karena fungsinya yang didengarkan, tapi terutama juga menyenangkan untuk ditatap dan diterima keadaan bentuknya yang bersifat simbolik. Penciptaan jenis radio semacam ini tidak semata-mata memahami radio dalam fungsinya secara praktik tetapi juga memaknainya sebagai produk simbolik yang berisikan kenangan nilai-nilai dan pengalaman hidup. Semoga kehadiran neo-Cawang ini tak hanya akan berhasil menggugah kenangan pada nilai keberhasilan bangsa Indonesia dalam sejarah industri radio di dunia, tetapi juga mampu secara aktif mempromosikan simbol-simbol budi daya penciptaan dan kreativitas bangsa yang tertera dalam jejak ragam hias Nusantara yang indah dan serasi.

Bandung, 14 November 2013


Rizki A. Zaelani
Kurator Seni Rupa